Senin, 09 November 2015

Attitudes and Job Satisfaction

        Contoh Kasus : PT. Bina Hasada adalah perusahaan produk obat-obatan yang terkemuka di Indonesia. Para karyawan merasa sikap dan kepuasan kerja dalam perusahaan yang ditimbulkan kurang baik sehingga menyebabkan mereka untuk berdemonstrasi terhadap para pemegang kekuasaan utama di perusahaan tersebut. Tindakan untuk menuntut haknya harus dipenuhi itu berdampak menjadi anarkis tepatnya di depan perusahaan tersebut.

        Teori

ATTITUDES

Attitude adalah penyataan evaluatif (evaluative statements) yang dapat menguntungkan maupun tidak menguntungkan, dan mengenai obyek, manusia, atau kejadian.Atittude menggambarkan bagaimana perasaan dengan suatu hal.

3 komponen attitude : cognition, affect, dan behavior.
Contoh dari cognition : kepercayaan mengatakan bahwa “pria lebih tinggi derajatnya disbanding wanita” hal ini merupakan value statement.
Affect : adalah emosional atau bagian perasaan dari attitude, selain itu affect dapat menjadi pemicu dari behavioral outcomes (hasil perilaku).
Behavioral component dari attitude berhubungan dengan tujuan untuk berperilaku di jalan yang pasti terhadap seseorang atau suatu hal.
Dalam suatu organisasi attitude termasuk hal yang penting,karena mempengaruhi perilaku pekerjaan.

Tipe-Tipe dari Attitude :
Fokus perhatian kita pada organization behavior  yaitu work-related attitude,yang dapat menjadi evaluasi positif maupun negative pekerja berkaitan dengan  aspek lingkungan kerjanya.
Organization Behavior berkonsentrasi pada tiga attitude yaitu: job satisfaction, job involvement dan organizational commitment.

Penjelasannya :

·         Job satisfaction : kondisi mengenai sikap individu secara umum berdasarkan pekerjaannya. Seseorang yang mempunyai tingkatan tinggi pada job satisfaction pasti memiliki sikap yang baik pada pekerjaannya dan sebaliknya.

·         Job involvement :  merupakan sejauh mana seseorang mengidentifikasi pekerjaannya dan secara aktif berpartisipasi dalam pekerjaan dan menganggap penampilannya atau kinerjanya untuk harga dirinya.

·         Organizational commitment : kondisi sejauh mana karyawan dapat mengidentifikasi dengan sebuah organisasi tertentu dan tujuannya, dan ada keinginan untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi,dan juga berkaitan dengan loyalitas pekerja dengan pekerjaannya.

Attitude dan Consistency
Pada umumnya,individu berusaha untuk mendamaikan perilaku mereka yang berbeda dan menyelaraskan sikap serta perilaku sehingga individu muncul rasional dan konsisten. Jika tidak terjadi konsistensi, maka individu akan memulai kembali  untuk menyeimbangkannya agar tetap konsisten.

Cognitive Dissonace Theory
Cognitive dissonance lebih mengarah pada adanya beberapa ketidakcocokan yang menyebabkan individu dapat merasakan beberapa diantara attitude, atau antara attitude dan kebiasaan. Festinger mengatakan bahwa beberapa dari ketidak konsistenan itu membuat tidak nyaman dan individu akan berupaya mengurangi perselisihan dan ketidaknyamanan. Bahkan individu akan bersembunyi pada kondisi yang stabil dimana tingkat prselisihan rendah. Harapan untuk mengurangi perselisihan yang ditentukan dari kepentingan dari pengaruh individu tersebut terlibat dalam perselisihan.

Measuring the A-B relationship
Variabelmoderat  Perantara yang terkuat telah ditemukan untuk menjadi yang terpenting dalam attitude adalah kekhususan, aksesbilitas, tekanan sosial, ataupun pengalaman langsung mengenai attitude.

Attitude menjadi penting karena:

1.      mencerminkan nilai dasar. Contohnya kepuasan seorang pegawai dalam pekerjaan terhadap turn over pegawai tersebut;

2.      kepentingan pribadi. Kita akan mudah dalam mengingat attitude yang sering diekspresikan. Sehinnga ketika kita mengingat attitude tersebut maka kita dapat membentuk kebiasaan / kelakuan yang harus digunakan dengan mudah;

3.      penilaian terhadap individu atau kelompok. Ketidak cocokan antara attitude dan kebiasaan akan terjadi ketika ada lingkungan menekan untuk berperilaku tertrntu untuk menahan kekuatan yang tidak biasa. Hal ini cendrung membentuk kebiasaan dalam organisasi. Contohnya pekerja yang menginginkan kenaikan gaji, apabila tidak dituruti maka akan melakukan demo bahkan resend.
Pertimbangan individu terhadap attitude cendrung menunjukan kekuatan hubungan dengan kebiasaan.

Self-perception theory meskipun studi tentang hubungan antara attitude dengan kebiasaan memiliki hasil yang positif , para peneliti menerima korelasi yang tinggi dengan mengikuti arah yang lain yaitu kebiasaan tidak mempengaruhi attitude. Pandangan ini yang disebut sebagai self-perception theory.
Sudah mendapat dukungan.Ketika hubungan traditional antara attitude-kebiasaan adalah hubungan yang positif, maka hubungan tersebut sangat kuat.Hal ini bisa benar terutama jika attitude lemah dan ambigu.

        Kesimpulan, dengan Nilai nilai tersebut diatas maka timbul sikap yang diakibatkan oleh :

1. Job Satisfaction berkurang ,ditandai dengan demonstrasi dengan tuntutan perbaikan fasilitas dan kompensasi yang meningkat tiap tahun
2. Job Involvement berkurang, karena merasa dianggap tidak mampu sehingga menyentuh ego harga diri mereka Organizational Commitment adalah personal need, mereka lebih mementingkan uang yang bisa masuk ke kantung mereka ketimbang profesionalisme perusahaan secara keseluruhan.
3. Dan terbentuknya sikap itu membuat mereka memilih untuk mengungkapakan ketidak puasan mereka secara Respon Voice (aktif dan konstruktiv), mereka mengeluarkan suara dengan cara demontrasi. Intinya mereka tetap mau supaya transportasi tidak diserahkan pada pihak luar tapi tetap dijalankan oleh mereka.

        Saran dari masalah diatas seharusnya perusahaan melakukan kebijakan yang tidak merugikan karyawan dan memberikan fasilitas kerja kepada karyawan dan memberikan hak karyawan sesuai dengan apa yang telah ia berikan kepada perusahaan. Sehingga karyawan mendapatkan kepuasan dalam bekerja, dan jika perusahaan ingin mengubah kebijakan-kebijakan yang lama maka perusahaan harus memperlajari terlebih dahulu konsep-konsep nilai, sikap dan kepuasan kerjanya. Jika hal tersebut diterapkan oleh perusahaan maka tidak akan terjadi demo yang dilakukan oleh karyawan dan karyawan pun tidak akan berprilaku anarkis.

        DAFTAR PUSTAKA :


               




Senin, 19 Oktober 2015

Komunikasi

Contoh Kasus : Pada Suatu Organisasi akan membuat satu acara penting mengenai ulang tahun organisasi tersebut, sehingga dibentuk kelompok panitia untuk mengurus acara tersebut agar berjalan dengan lancar. Seiring berjalannya waktu, terdapat banyak konflik dalam panitia acara tersebut. Mulai dari perbedaan pendapat, saling iri antar anggota, dan akhirnya mereka saling mengerjakan tugasnya masing-masing tanpa ada persetujuan dari anggota panitia lain atau tanpa kesepakatan bahkan ada yang tidak mengerjakan tugasnya sebagai panitia. Dan akhirnya acara sudah semakin dekat tetapi panitia belum bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Teori
Istilah komunikasi dari bahasa Inggris communication, dari bahasa latin communicatus yang mempunyai arti berbagi atau menjadi milik bersama, komunikasi diartikan sebagai proses sharing diantara pihak-pihak yang melakukan aktifitas komunikasi tersebut. komunikasi adalah sutu proses di dalam upaya membangun saling pengertian. Dalam suatu organisasi biasanya selalu menekankan bagaimana pentingnya sebuah komunikasi antar anggota organisasi untuk menekan segala kemungkinan kesalahpahaman yang bisa saja terjadi.

Komunikasi dalam sebuah organisasi
Komunikasi Organisasi dapat didefinisikan sebagai pertunjukkan dan penafsiran pesan di antara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian suatu organisasi tertentu. Suatu organisasi terdiri dari dari unit-unit komunikasi dalam hubungan hierarkis antara yang satu dengan lainnya dan berfungsi dalam suatu lingkungan.
Tujuan komunikasi dalam proses organisasi tidak lain dalam rangka membentuk saling pengertian (mutual undestanding) . Pendek kata agar terjadi penyetaraan dalam kerangka referensi, maupun dalam pengalaman.

 Unsur-unsur Komunikasi ada 5, yaitu :
1.Komunikator
2.Menyampaikan berita
3.Berita-berita yang disampaikan
4.Komunikasi
5.Tanggapan atau reaksi

Fungsi komunikasi dalam organisasi :
- Proaksi dan regulasi
- Menentukan tujuan organisasi
- Menentukan area permasalahan
- Mengevakuasi performa
- Memberikan komando, instruksi, memimpin, dan mempengaruhi inovasi
- Mendapatkan informasi baru
- Cara mengkomunikasikan susuatu yang baru dalam sosialisasi dan perbaikan
- Harga diri anggota

            Berdasarkan teori komunikasi sebagai proses sharing diantara pihak-pihak yang melakukan aktifitas komunikasi, pentingnya sebuah komunikasi antar anggota organisasi untuk menekan segala kemungkinan kesalahpahaman yang bisa saja terjadi. Sehingga organisasi tidak akan terjadi saling iri atau konflik yang seharusnya bisa di hindari, dan bisa mengkomunkasikan apa yang akan ia kerjakan dalam sebuah organisasi sesuai dengan kesepakatan anggota.

            Kesimpulan dari masalah di atas adalah terjadinya kesalahpahaman antar anggota karena kurangnya komunikasi dalam kelompok. Apapun yang dilakukan oleh anggota kelompok sebaiknya dikomunikasikan sehingga tidak menimbulkan konflik. Dan saling menghargai keputusan yang dibuat antar anggota, sehingga tidak ada yang dirugikan. Ingatlah bahwa dalam suatu kelompok memiliki satu tujuan yang ingin dicapai bersama-sama untuk kepentingan bersama.

            Saran dari kasus di atas adalah dibentuknya panitia dalam acara tersebut ialah untuk mencapai tujuan bersama. Setiap anggota harus mengkomunikasikan apa yang ia kerjakan kepada anggota lain, sehingga tidak terjadi salah paham. Dan jika ada perbedaan pendapat dibicarakanlah secara musyawarah dan saling menghargai pendapat orang lain. Kerjasama antar anggota panitia akan membuahkan hasil yang baik. Dan acara ulang tahun organisasi pun akan berjalan dengan lancar dan sukses sesuai dengan tujuan bersama.

            Daftar Pustaka :


           





Sabtu, 10 Oktober 2015

Fondasi Perilaku Kelompok

            Contoh kasus : kelompok di dalam universitas yang terdiri dari dosen, karyawan dan para pemimpin, dan mahasiswa dengan berbagai macam fakultas di kampus harus dapat saling bekerjasama untuk mewujudkan tujuan organisasi. Organisasi akan cepat mencapai tujuannya apabila ada keterpaduan antara tujuan kelompok tersebut dengan tujuan organisasi.  Dan kelompok juga harus memiliki komitmen yang sama antar anggotanya. Terjadinya saling serang antara kelompok mahasiswa yang disebabkan perbedaan peranan dan kepribadian yang berbeda latar belakang kelompok menjelaskan bahwa setiap kelompok memliliki latar belakang kelompok yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut memang sudah diatur oleh organisasi agar spesialisasi dalam sebuah kelompok dapat membantu untuk melakukan tugasnya masing-masing dengan efektif dan efisien.

            Definisi Kelompok
Kelompok adalah kumpulan dua atau lebih individu yang berinteraksi dan saling tergantung, yang berkumpul bersama untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Jadi, kelompok merupakan:
·         Kumpulan dua atau lebih individu
·         Berinteraksi
·         Saling tergantung
·         Mencapai tujuan tertentu

Klasifikasi Kelompok

1.      Kelompok formal
Merupakan kelompok kerja yang didesain oleh struktur organisasi. Jadi kelompok ini terbentuk karena adanya perintah atau campur tangan organisasi.

2.      Kelompok informal
Kelompok yang muncul atas respon terhadap kebutuhan akan kontak sosial. Jadi, kelompok ini muncul secara alamiah atau dalam arti tidak ada perintah atau campur tangan organisasi.

Orang atau individu bergabung dalam kelompok karena beberapa alasan, antara lain:

1.      Kemanan
Beberapa orang akan merasa aman jika mereka berada dalam suatu kelompok.
2.      Status
Beberapa kelompok memberi suatu pemberian status bagi anggotanya.
3.      Self-esteem (penghargaan diri)
Beberapa orang bergabung dalam kelompok karena ingin mendapatkan penghargaan diri yang hanya bisa didapatkan dalam kelompok tersebut.
4.      Afiliasi/proximity (kesamaan)
Kesamaan antar individu juga bisa menyebabkan terbentuknya kelompok. Kelompok seperti ini sama dengan kelompok pertemanan.
5.      Kekuatan
Beberapa orang bergabung dalam kelompok agar dapat memiliki kekuatan lebih.
6.      Pencapaian tujuan
Beberapa orang hanya dapat mencapai tujuan mereka jika bergabung dalam kelompok.

            Kesimpulan dari kasus diatas yaitu perbedaan peranan dan kepribadian yang berbeda latar belakang kelompok menjelaskan bahwa setiap kelompok memliliki latar belakang kelompok yang berbeda-beda dan memiliki tujuan yang berbeda. Berdasarkan teori Pencapaian tujuan. Beberapa orang hanya dapat mencapai tujuan mereka jika bergabung dalam kelompok. Afiliasi/proximity (kesamaan). Kesamaan antar individu juga bisa menyebabkan terbentuknya kelompok. Kelompok seperti ini sama dengan kelompok pertemanan.
           
            Saran dari kasus diatas yaitu walaupun di dalam sebuah universitas memiliki banyak kelompok organisasi dengan latar belakang dan tujuan yang berbeda bukan berarti perbedaan dijadikan masalah yang akan berdampak keributan atau saling serang antar kelompok. Tetapi perbedaan tersebut harus dijadikan kekuatan untuk mencapai satu tujuan universitas tersebut. Budayakan sifat kekeluargaan dalam setiap kelompok. Perbedaan masalah dapat diselesaikan dengan cara yang baik seperti musyawarah antar kelompok. Saling menghargai antar kelompok dan setiap kelompok harus menjaga nama baik universitas.

            Daftar Pustaka :




Senin, 05 Oktober 2015

Motivasi




Contoh Kasus : Seorang siswi bernama Ani, dia mengalami kesulitan belajar di karenakan dia terpaksa masuk jurusan yang tidak ia minati karena atas kemauan orang tuanya. Dia sebenarnya masuk IPA, tetapi keinginan dia ingin masuk IPS. Ketika ia mencoba untuk pindah jurusan ternyata sama pihak sekolah tidak dibolehkan. Hal ini mengakibatkan penurunan prestasi dan mengakibatkan anak kesulitan belajar, ia menjadi sering tidur di kelas, mainan hp di kelas, penurunan motivasi belajar, suka datang terlambat, suka membolos.

Teori Motivasi

Motivasi adalah sebuah alasan atau dorongan seseorang untuk bertindak. Orang yang tidak mau bertindak sering kali disebut tidak memiliki motivasi. Alasan atau dorongan itu bisa datang dari luar maupun dari dalam diri. Sebenarnya pada dasarnya semua motivasi itu datang dari dalam diri, faktor luar hanyalah pemicu munculnya motivasi tersebut. Motivasi dari luar adalah motivasi yang pemicunya datang dari luar diri kita. Sementara motivasi dari dalam ialah motivasinya muncul dari inisiatif diri kita.

Teori-Teori Motivasi

·         Teori Insentif: Yaitu teori yang mengatakan bahwa seseorang akan bergerak atau mengambil tindakan karena ada insentif yang akan dia dapatkan.

·         Dorongan Bilogis: Dalam hal ini yang dimaksud bukan hanya masalah seksual saja. Termasuk di dalamnya dorongan makan dan minum. Saat ada sebuah pemicu atau rangsangan, tubuh kita akan bereaksi.

·         Teori Hirarki Kebutuhan: Teori ini dikenalkan oleh Maslow sehingga kita mengenal hirarki kebutuhan Maslow. Teori ini menyajikan alasan lebih lengkap dan bertingkat. Mulai dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan kemanan, kebutuhan akan pengakuan sosial, kebutuhan penghargaan, sampai kebutuhan akan aktualisasi diri.

·         Takut Kehilangan vs Kepuasan: Teori ini mengatakan bahwa apda dasarnya ada dua faktor yang memotivasi manusia, yaitu takut kehilangan dan demi kempuasan (terpenuhinya kebutuhan). Takut kehilangan adalah adalah ketakutan akan kehilangan yang sudah dimiliki.

·         Kejelasan Tujuan: Teori ini mengatakan bahwa kita akan bergerak jika kita memiliki tujuan yang jelas dan pasti. Dari teori ini muncul bahwa seseorang akan memiliki motivasi yang tinggi jika dia memiliki tujuan yang jelas. Sehingga muncullah apa yang disebut dengan Goal Setting (penetapan tujuan).

Kesimpulan dari kasus di atas yaitu seseorang tidak akan menjalani suatu hal dengan keterpaksaan, tidak akan ada dorongan dari dalam diri seseorang jika ia melakukan hal yang tidak ia senangi. Walaupun orang tua Ani menginginkan Ani masuk IPA tetapi kemampuan dan keinginan Ani masuk IPS dan ternyata sekolah pada akhirnya tidak mengizinkan untuk pindah jurusan, maka yang dijalankan oleh Ani akan berujung dengan sia-sia. Menurut Teori Kejelasan Tujuan, mengatakan bahwa kita akan bergerak jika kita memiliki tujuan yang jelas dan pasti. Dari teori ini muncul bahwa seseorang akan memiliki motivasi yang tinggi jika dia memiliki tujuan yang jelas. Sehingga muncullah apa yang disebut dengan Goal Setting (penetapan tujuan).

Saran dari kasus diatas biarkanlah seseorang menjalani hidup sesuai dengan tujuan dan kemampuan masing-masing pada dasarnya semua motivasi itu datang dari dalam diri. Biarkanlah Ani memilih IPS sesuai dengan keinginannya, orang harusnya memberikan support agar anak termotivasi untuk memberikan yang terbaik untuk orangtua, dan menjalankan sesuatunya dengan hati yang senang.

Daftar Pustaka :





Minggu, 27 September 2015

Kepribadian Dan Nilai

            Kasus : Adam adalah seorang karyawan di salah satu perusahaan jasa yang selalu menutamakan nilai-nilai keramahan, tanggap dan tepat waktu, maka Adam dituntut untuk memiliki sifat-sifat tersebut. Untungnya Adam lahir dan tumbuh dalam keluarga yang mengutamakan nilai-nilai tersebut, jadi tidak ada halangan bagi Adam untuk menjalankan tugasnya, hanya saja karena ini kali pertama Adam bekerja pada suatu perusahaan, ia masih tidak dapat menahan stabilitas emosinya dengan baik, akibatnya ia tidak tahan terhadap tekanan atau stress dan terus merasa gelisah. Karena emosi negatif yang dimiliki oleh Adam menyebabkan pekerjaannya tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan oleh manajernya.

            Kepribadian dan Nilai Kepribadian. Menurut Gordon Aliport, kepribadian adalah organisasi dinamis dalam sistem psikofisiologis individu yang menentukan caranya untuk menyesuaikan diri secara unit terhadap lingkungannya. Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisa diukur yang ditunjukan oleh seseorang.

            Faktor- faktor penentu Kepribadian :

·        -  Faktor Keturunan

Keturunan merujuk pada faktor genetis seorang individu. Tinggi fisik, bentuk wajah, gender, tempramen, komposisi otot dan refleks, tingkat energi, dan irama biologis adalah karakteristik yang pada umumnya dipengaruhi oleh siapa orang tua anda. Yaitu komposisi biologis psikologis dan psikologis bawaan mereka.

·        -  Faktor Lingkungan

Faktor lain yang mempengaruhi cukup besar terhadap pembentukan karakter adalah lingkungan dimana kita tumbuh dan dibesarkan, norma dalam keluarga, teman –teman, dan kelompok sosial. Faktor-faktor ini memiliki peran dalam membentuk kepribadian kita.

            Kesimpulannya, jadi seseorang harus memiliki kepribadian yang diharapkan untuk suatu perusahaan agar orang tersebut dapat berkontribusi untuk kemajuan perusahaan. Kepribadiaan seseorang juga harus dijalankan dengan emosi yang stabil agar tidak mengganggu pekerjaan yang ia kerjakan, kepribadian dan emosi seseorang harus berjalan sesuai dengan tuntutaan perusahaan tempat ia bekerja.Dan faktor dari kepribadian sangat berpengaruh pada kebiasaan seseorang bagaimana berprilaku sehari-hari.

            Saran dari kasus diatas adalah faktor kepribadian seseorang sangat mempengaruhi sikap seseorang di masa yang akan datang dengan kebiasaan-kebiasaan yang ia jalani sehari-hari. Menurut saya yang sangat berpengaruh adalah faktor lingkungan misalnya di dalam keluarga, keluarga tempat utama untuk mengajarkan prilaku yang baik sesuai dengan adat istiadat serta Agama yang dianut oleh setiap masyarakat yang memiliki aturan-aturan tertentu dan dijalani dalam suatu keluarga tersebut. Sehingga sejak kecil harus sudah diajarkan nilai dan norma serta kebiasaan baik yang akan menjadi bekal dimasa depan yang nantinya akan berguna kelak ia sudah besar di lingkungan perusahaan. Dan seseorang harus bisa mengkontrol emosi di dalam subuah pekerjaan, karena jika ia bekerja dengan penuh emosi maka pekerjaan yang dijalankan tidak akan menghasilkan pekerjaan yang baik dan akan merugikan perusahaan.

            Daftar Pustaka :


Senin, 21 September 2015

Karakteristik Biografis Individu

        Contoh kasus : Bp. Ahmad dan Ibu Lady yang bekerja di PT. Pratama Indonesia sama sama bekerja di bagian Keuangan di perusahaan tersebut. Mereka sama sama memiliki kedudukan jabatan yang sama dan keduanya memiliki prestasi yang sangat baik walapun mereka berbeda Gender. Namun, Ibu Lady lebih banyak tidak masuk kerja/ dalam hal kehadiran ibu Lady masih dibawah Bp. Ahmad. Karena Ibu Lady adalah seorang wanita yang memiliki banyak tanggung jawab di luar pekerjaan di bandingkan oleh bp. Ahmad. Jika pagi hari sebelum berangkat kerja ibu Lady mengurus anaknya terlebih dahulu yang ingin berangkat ke sekolah seperti menyiapkan sarapan pagi atau menghadiri rapat di sekolah dan juga mengurus suaminya ketika sedang sakit. Dalam perusahaan pun juga terdapat cuti haid/kelahiran. Hal inilah yang membuat wanita dalam kehadiran lebih sering absen.

       Gender (Jenis Kelamin)
  • Tidak ada beda yang signifikan/bermakna dalam produktifitas kerja antara pria dan wanita.
  • Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa jenis kelamin karyawan mempengaruhi kepuasan kerja.
  • Hubungan gender – turnover = beberapa studi menjumpai bahwa wanita mempunyai tingkat keluar yang lebih tinggi, dan studi lain menjumpai tidak ada perbedaan antara hubungan keduanya.
  • Hubungan gender – absensi = wanita mempunyai tingkat absensi yang lebih tinggi (lebih sering mangkir). Dengan alasan : wanita memikul tanggung jawab rumah tangga dan keluarga yang lebih besar, juga jangan lupa dengan masalah kewanitaan.


Kesimpulannya hanya sedikit isu yang memancing kesalahpahaman dan pendapat tidak mendasar dibandingkan apakah kinerja wanita sebaik pria. Bukti menunjukan bahwa ada sedikit perbedaan penting antara pria dan wanita yang mempengaruhi kinerja mereka misalnya tidak terdapat perbedaan yang konsisten antara pria dan wanita dalam hal memecahkan masalah, menganalisa, motivasi, atau kemampuan belajar. Berbagai penelitian Psikologis menunjukan bahwa para wanita lebih bersedia menyesuaikan diri dan pria lebih agresif serta lebih mungkin memiliki pengharapan sukses dibanding wanita, karena peran wanita adalah sebagai pencari nafkah sekunder   

Saran dari masalah di atas adalah bahwa perbedaan Gender bukan alasan untuk dijadikan perdebatan karena pria dan wanita memiliki perannya masing masing. Dan tidak ada yang lebih unggul karena pria dan wanita memiliki prestasi yang sama dalam sebuah perusahaan. Pria memiliki peran sebagai kepala rumah tangga dan memang mencari nafkah adalah tanggung jawab seorang pria sehingga pria lebih agresif pengaharapan kesuksesannya dibandingkan wanita. Sedangkan wanita sebagai pencari nafkah sekuder tugas utama wanita adalah membina rumah tangga, dan keluarga. Wajar bila perusahaan memberikan cuti haid/kelahiran karena jika dipaksakan untuk bekerja pun wanita tidak akan bekerja secara optimal. Sehingga perusahaan memberikan prioritas absensi pada wanita. Dan wanita dapat menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga dan tetap berkarir dalam perusahaan juga dapat menyalurkan prestasi atau bakatnya untuk perusahaan.

Daftar Pustaka :